Yogyakarta selalu menyimpan kisah sejarah yang menarik di balik setiap sudut kotanya. Salah satu warisan budaya yang paling melekat di lidah wisatawan adalah kue bakpia. Lebih dari sekadar buah tangan, akulturasi kuliner bakpia yogyakarta mencerminkan harmoni panjang antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat Jawa.

Kudapan berbentuk bulat pipih ini tidak muncul begitu saja sebagai kue asli tanah Jawa. Sebaliknya, kue ini melewati proses adaptasi budaya, agama, dan selera lokal selama puluhan tahun. Oleh karena itu, mari kita telusuri jejak sejarah dan data autentik di balik lahirnya kudapan legendaris ini.

Asal-Usul Kata Bakpia dan Resep Asli dari Tiongkok

Secara etimologi, kata “bakpia” berasal dari dialek Hokkien, yakni kata “Tou Luk Pia”. Dalam bahasa Hokkien, kata “Bak” berarti daging babi, sedangkan kata “Pia” berarti kue panggang berbahan tepung. Dengan demikian, arti harfiah bakpia pada masa awal kemunculannya adalah kue panggang berisi daging.

Para imigran asal Provinsi Fujian, Tiongkok, membawa resep kue panggang ini masuk ke wilayah Nusantara pada awal abad ke-20. Pada masa itu, para perantau Tionghoa membuat kue ini khusus untuk konsumsi keluarga saat perayaan tradisional.

Titik Balik Tahun 1948: Adaptasi Menjadi Kudapan Halal

Ilustrasi, perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok mulai memperkenalkan Bakpia

Catatan sejarah menunjukkan bahwa produksi bakpia komersial di Yogyakarta bermula pada dekade 1940-an. Pertama, seorang perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok mulai memperkenalkan kue ini di kawasan Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, pada tahun 1940-an. Ia menyewa sebidang tanah milik bangsawan Keraton bernama Niti Gurnito untuk memproduksi kue panggang secara rumahan.

Selanjutnya, pada tahun 1948, keluarga Liem Bok Sing memelopori perubahan besar di Kampung Pathuk, Yogyakarta. Mereka menyadari bahwa mayoritas masyarakat Jawa beragama Islam dan menghindari konsumsi daging babi. Oleh sebab itu, mereka mengubah komposisi bahan baku secara total agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmatinya.

Transformasi resep tersebut meliputi tiga penyesuaian utama:

  1. Penggantian Isian Daging: Pengrajin mengganti isian daging babi dengan adonan kacang hijau kupas dan kumbu hitam yang manis.
  2. Penggunaan Minyak Nabati: Mereka mengganti minyak babi (lard) pada adonan kulit dengan minyak kelapa dan margarin nabati.
  3. Penyesuaian Cita Rasa: Takaran gula pasir dan gula jawa ditingkatkan guna menyesuaikan kecenderungan selera masyarakat Jawa yang menyukai rasa manis legit.

Keputusan cerdas pada tahun 1948 ini menjadi tonggak penting dalam sejarah akulturasi kuliner bakpia yogyakarta. Sejak saat itu, kue yang dulunya eksklusif berubah menjadi kudapan rakyat yang halal dan inklusif.

Perkembangan Industri Rumahan di Kawasan Pathuk pada 1980-an

Memasuki era 1980-an, popularitas bakpia kacang hijau di kawasan Pathuk berkembang semakin pesat. Banyak warga lokal Jawa yang dulunya bekerja sebagai karyawan pembuat kue mulai membuka usaha mandiri di rumah masing-masing.

Pada periode awal ini, para pengrajin belum menggunakan merek dagang modern pada kemasan kardus mereka. Sebaliknya, masyarakat menamai produk bakpia sesuai dengan nomor rumah tempat produksinya di sepanjang Jalan Karel Sasuit Tubun (kawasan Pathuk). Fenomena unik inilah yang kemudian melahirkan tradisi penamaan bakpia bernomor yang sangat populer di kalangan wisatawan.

Sebagai referensi literatur mengenai warisan budaya ini, Anda dapat membaca pencatatan resmi penetapan Bakpia Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui portal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Evolusi Modern di Tangan Bakpiaku

Seiring bergantinya generasi, akulturasi kuliner bakpia yogyakarta terus bergerak mengikuti perkembangan zaman dan selera konsumen modern. Jika pada tahun 1948 inovasi berfokus pada perubahan isian daging menjadi kacang hijau, maka era modern menghadirkan terobosan pada tekstur kulit serta variasi rasa.

Melanjutkan semangat inovasi tersebut, Bakpiaku hadir memperkaya khazanah oleh-oleh Yogyakarta sejak tahun 2012. Kami memadukan teknik pemanggangan tradisional yang presisi dengan takaran bahan baku premium untuk menghasilkan kulit kue yang jauh lebih lembut dan tidak mudah rontok.

Selain merawat dua rasa warisan sejarah—yakni kacang hijau kupas dan kumbu hitam—kami juga memelopori berbagai isian modern. Kini, penikmat kuliner dapat mencicipi varian rasa cokelat, keju, susu, cappuccino, green tea, hingga durian asli yang lumer di mulut.

Melalui perpaduan nilai tradisi dan inovasi rasa, akulturasi kuliner bakpia yogyakarta terbukti mampu bertahan melintasi lintas generasi. Apakah Anda ingin menikmati langsung cita rasa sejarah yang berpadu dengan kelembutan tekstur modern? Kunjungi halaman utama Bakpiaku Oleh-Oleh Khas Jogja untuk menemukan pilihan paket buah tangan terbaik bagi orang terkasih.

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published . Required fields are marked *